Minggu, 20 Februari 2022

Minuman Ajaib

 


Hari ini adalah hari yang begitu mendebarkan jantungku. Rasa debaran ini lebih parah dari debaran saat remaja merasakan jatuh cinta. Haha lebay. Enggak tapi ini beneran. 

Aku bangun pagi hari ini, sebelum ayam berkokok, dan sebelum matahari terbit mataku sudah menampilkan warna hitam dan putih. Bahkan saat malam hari yang begitu sepi dan tenang, aku terus memikirkan hari ini. Aku berjalan menuju kamar mandi dan melakukan rutinitasku seperti hari biasanya, kemudian aku bersiap menggunakan pakaianku yang sudah ku pilih satu minggu sebelumnya, iya berlebihan. 

Setelah siap segala urusanku, akupun pergi berjalan kaki menuju tempat yang ku tuju. Membelah jalanan dengan rasa debaran yang masih ku miliki dari malam kemarin. Tempat itu, tempat yang ku tuju, tempat yang membuat jantungku berdebar selama satu minggu, ia adalah sebuah perusahaan Strat Up IT (Information Technology) yang bangunanya berdiri tegak menjulang dengan indahnya, dan memikirkannya saja membuat hatiku gugup setengah mati.

Iya, kalian pasti sudah menebaknya, aku akan melakukan sebuah wawancara kerja untuk yang pertama kalinya dalam hidupku, disebuah perusahaan impianku. Pakaian ku? Oh, itu memang sudah peraturan Start Up nya untuk tidak memberlakukan sistem pakaian yang formal, baik dalam bekerja maupun yang hendak bekerja. 

Aku begitu gugup sehingga bisa merasakan kaki ku gemetar. Ku lihat tak jauh dariku berdiri, ada seorang pedagang kaki lima yang menjual berbagai minuman. Ku hampiri dan kulihat minuman favoritku dijual disana. Iya, AQUA, minuman favoritku, minuman yang saat ku minum bisa membuat waktu seolah-olah berhenti, memberikan ketenangan dan kesegaran layaknya surga duniawi. Akupun membuka botol nya dan ku minum hampir setengahnya, dan ajaibnya debaran dan getaran yang kurasakan dalam tubuhku sekejap hilang seperti ditelan oleh lubang hitam yang tiba-tiba muncul dan menghilang sesuka hatinya. 

Ajaib sekali pikirku. Dan dengan segala keajaiban yang diberikan oleh AQUA aku sangat yakin kalau aku akan lolos wawancara kerja itu dan akan bekerja di Start Up impianku.

Rabu, 02 Februari 2022

Resume Artikel : Anak-anak Masih Rentan Mengalami Kekerasan





Pada 13 Desember 2021, masyarakat dikejutkan oleh pemerkosaan gadis di bawah umur yang dilakukan oleh ayah kandung dan kakaknya sendiri. Terdakwa yang tidak lain adalah kakak kandung dan ayah kandung korban, terbukti secara sah dan diyakini telah melakukan kekerasan seksual. Bahkan, tindak pidana tersebut telah dilakukan berulang kali.

Berdasarkan undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.


Selain itu, dalam rangka meningkatkan efektivitas pengawasan penyelenggaraan pemenuhan hak anak, dibentuk juga Komisi Perlindungan Anak Indonesia yang bersifat independen. Namun, sayangnya meski Indonesia telah memiliki Undang-Undang Perlindungan Anak dan lembaga khusus yang melindungi anak, tren kasus kekerasan terhadap anak terus meningkat.


Berdasarkan Data Survei Sosial Ekonomi Nasional dari Badan Pusat Statistik, persentase anak yang menjadi korban kejahatan memang mengalami penurunan. Menurunnya persentase anak dari level provinsi maupun nasional menjadi korban kejahatan menunjukkan bahwa peluang anak-anak mendapat perlindungan dari kekerasan makin besar sehingga kecil kemungkinan untuk menjadi korban dari sebuah kejahatan. Meskipun begitu, tidak dapat dimungkiri bahwa masih adanya peluang anak-anak untuk menjadi korban kekerasan.


Kekerasan terbukti menjadi salah satu tindak kejahatan yang rentan dialami oleh anak-anak. Selama tahun 2019-2021, angka kekerasan pada anak terus mengalami peningkatan. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak , jumlah kekerasan terhadap anak pada 2019 sebanyak 11.057 kasus terdiri dari kekerasan fisik 3.401 kasus, kekerasan psikis 2.527 kasus, seksual 6.454, eksploitasi 106 kasus, tindak pidana perdagangan orang 111 kasus, penelantaran 850 kasus, dan kasus kekerasan lainnya 1.065 kasus.


Di Indonesia, kekerasan terhadap anak memang sudah membudaya dan dilakukan turun-temurun. Akibatnya, dari tahun ke tahun kasus kekerasan terhadap anak terus bertambah. Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya faktor pemicu kekerasan terhadap anak. Kekerasan terhadap anak juga terkait dengan faktor struktural dan kultural dalam masyarakat.


Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya pandangan bahwa anak adalah harta kekayaan orang tua atau pandangan bahwa anak harus patuh kepada orang tua, yang seolah-olah menjadi alat pembenaran atas tindak kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita bersama, khususnya para orang tua, untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, berpartisipasi optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Paradigma bahwa anak adalah milik orang tua harus segera diubah. Selain itu, kecekatan pemerintah dalam mengatasi permasalahan ekonomi diharapkan dapat membantu menekan angka kekerasan anak.


Dengan menjadikan masalah kemiskinan dan penyediaan lapangan pekerjaan sebagai prioritas utama pemerintah diharapkan dapat meminimalisasi peluang kekerasan yang dialami oleh anak.








Artikel asli ditulis oleh RAHMA NURHAMIDAH, S.S.T. - Fungsional Statistisi BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dapat dijumpai di website bangka.tribunnews.com

Menonton Drama Korea Membuat Remaja Indonesia Tidak Nasionalisme?





Pada jaman sekarang ini drama korea atau yang lebih sering disingkat drakor sedang 'buming-buming' nya di Indonesia. Drama korea merupakan serial televisi yang berasal dari Korea Selatan atau yang lebih dikenal sebagai Negeri Ginseng. 

Banyak remaja-remaja Indonesia yang menghabiskan waktu mereka dengan cara menonton drama korea dibandingkan keluar rumah, terutama untuk remaja perempuan. Namun, faktanya tidak hanya remaja perempuan saja yang menggunakan drakor sebagai sarana untuk mengisi waktu luang, bahkan remaja laki-laki, orang dewasa, dan ibu-ibu rumah tangga pun menonoton drakor.

Semakin meningkatnya drama korea di Indonesia bukan tanpa alasan, seperti yang kita ketahui pandemi covid-19 sudah melanda Indoensia sejak tahun 2019 hingga sekarang. Dilansir dari kumparan.com "Pandemi covid-19 yang tak kunjung usai menjadi salah satu faktor utama meningkatnya para penonton drama korea di Indonesia."

Beberapa alasan lain mengapa remaja-remaja di Indonesia menonton drama korea adalah karena memang merupakan hobi, 'senang' melihat wajah tampan dan cantik para aktor dan aktris korea, dapat mempelajari budaya dan bahasa korea, serta hanya sebagai hiburan saja.

Tetapi remaja harus bisa mengatur waktu dalam menonton drakor, jangan sampai karena drakor, remaja jadi lupa waktu dan melupakan kehidupan realita mereka. Contohnya seperti lupa mengerjakan tugas sekolah, tidak membantu pekerjaan orang tua, menuntup diri dari dunia luar, serta remaja harus patuh terhadap ketentuan drama korea yang biasanya menggunakan batasan umur, karena biasanya terdapat konten dewasa dalam drama-drama tertentu, agar hal tersebut tidak mempengaruhi emosi remaja.

Jadi apa hubungannya Menonton drama korea dapat mengurangi rasa Nasionalisme remaja Indonesia?

Nasionalisme itu apa sih?

Nasionalisme adalah sikap atau semangat yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia dalam mencintai tanah airnya. Mencintai tanah air merupakan kewajiban kita warga Indonesia. Tetapi apakah nasioanlisme seorang remaja diukur dari Menonton atau Tidak nya dia Drama Korea?

Sebenarnya saya menulis artikel ini karena saya sebagai remaja penggemar drakor merasa terganggu akibat akhir-akhir ini banyak orang yang menghubungkan drama korea dengan rasa nasionalisme. Kata mereka, remaja yang menonton drama korea adalah remaja yang TIDAK NASIONALISME. 

"Pindah aja ke korea kalo lo nonton drama korea, negara indonesia kok nonton drama korea, gak nasionalis banget." komentar netizen.

Saya pribadi sebenarnya merasa tidak setuju dengan pendapat ini. Seberapa nasionaliskah dirinya sampai bisa berkomentar seperti itu?

Rasa nasionalisme seseorang tidak dapat diukur dari apa yang ia tonton, tetapi apa yang dia lakukan untuk negaranya. Perbuatan yang harus dilakukan untuk negara tidak harus 'muluk-muluk' seperti berperang, tetapi bisa dilakukan dari hal-hal kecil. Contohnya dalam kasus ini adalah, sebagai remaja kita harus belajar sebaik mungkin disekolah, agar bisa menjadi seseorang yang berguna dan berjasa bagi negara kita tercinta. 

Saya juga heran, banyak orang-orang yang menonton drama dari negara lain, seperti jepang, western, thailand, dan lain-lain. Tetapi yang dikatakan tidak nasionalisme hanyalah para penikmat drakor. 

Saya jadi bertanya-tanya, rasa Nasionalisme itu bagaimana sih sebenarnya? Bagaimana cara mengukur rasa Nasionalisme seseorang? Tidak boleh belajar tentang dunia luar? Harus memakai produk dalam negeri dan tidak boleh memakai produk luar negeri? Tidak boleh belajar bahasa asing dan hanya boleh berbahasa Indonesia?

Dunia semakin berkembang, dan kita perlu belajar tentang dunia luar karena memang itu akan berguna bagi kehidupan kita. Belajar tentang dunia luar bukan menunjukkan kita tidak nasionalis, tetapi menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang ingin menambah pengetahuan secara luas. Tetapi, ada batasan yang harus dilakukan. Jangan sampai karena terlalu mengagumi suatu negara lain, sampai enggan memakai barang lokal dan enggan berbahasa indonesia lagi, dan bahkan menjelek-jelekan negara sendiri. Itu yang tidak boleh.

Jadi, membuktikan rasa Nasionalisme itu jangan hanya berkoar-koar saja, tetapi perlunya tindakan nyata, yang berguna bagi bangsa dan negara. Jangan sampai rasa nasionalisme membuat kita menutup mata pada dunia luar. Jadikan dunia luar yang kita kagumi sebagai motivasi dan inspirasi bukan untuk membandingkan, agar kita bisa menjadi lebih baik lagi dan memajukan negara kita Indonesia. Semangat Remaja Indonesia!






Minuman Ajaib

  Hari ini adalah hari yang begitu mendebarkan jantungku. Rasa debaran ini lebih parah dari debaran saat remaja merasakan jatuh cinta. Haha ...